Kabar mengejutkan datang dari dunia bisnis makanan global, tepatnya dari Amerika Serikat. Perusahaan raksasa makanan kaleng Del Monte bangkrut dan secara resmi mengajukan permohonan pailit. Tidak hanya itu, mereka juga mulai menjual aset bernilai ratusan triliun rupiah untuk membayar utang yang menumpuk selama bertahun-tahun.
Bagi masyarakat Indonesia, nama Del Monte sangatlah familiar. Selama puluhan tahun, produk seperti saus tomat, nanas kaleng, hingga jagung manis dengan logo khas hijau-kuning tersebut hadir di rak-rak supermarket. Kini, muncul pertanyaan besar: apakah Del Monte bangkrut juga berdampak ke Indonesia? Dan lebih dalam lagi, kenapa Del Monte bangkrut padahal produknya masih terlihat aktif beredar di berbagai negara?

Del Monte Ajukan Bangkrut Resmi dan Jual Aset Ratusan Triliun
Pada awal Juli 2025, dunia dikejutkan dengan pengumuman bahwa Del Monte ajukan bangkrut di pengadilan Amerika Serikat. Langkah ini diambil setelah tekanan finansial yang terus meningkat dan beban utang yang tidak tertanggulangi. CNBC Indonesia mencatat bahwa nilai utang perusahaan mencapai angka fantastis, sementara aset yang tersisa mulai dikalkulasikan untuk dilego.
Kondisi keuangan yang tidak sehat membuat Del Monte Foods harus mengambil jalan hukum, yaitu mengajukan Chapter 11 Bankruptcy. Melalui langkah ini, perusahaan berharap bisa menata ulang keuangan, menjual aset yang tidak lagi produktif, serta mencari investor baru yang dapat membantu kelangsungan bisnisnya.
Langkah ini bukan hanya soal menyelamatkan perusahaan, tapi juga menyangkut nasib ribuan karyawan serta keberlanjutan bisnis makanan olahan dalam skala global. Tak ayal, pasar saham dan industri pangan pun mulai bereaksi atas kejadian ini.
Penyebab Del Monte Bangkrut Bukan Sekadar Penurunan Penjualan
Jika dilihat secara sekilas, penyebab Del Monte bangkrut mungkin terlihat sebagai dampak penurunan penjualan semata. Namun jika ditelisik lebih dalam, kombinasi dari berbagai faktor turut menyumbang keruntuhan perusahaan legendaris ini. Berikut beberapa poin yang diangkat oleh Kompas dan CNBC:
- Persaingan Produk yang Kian Sengit
Pasar makanan kaleng saat ini menghadapi gempuran produk baru yang lebih segar, organik, dan disesuaikan dengan tren gaya hidup sehat. Produk Del Monte yang tergolong “klasik” makin tertinggal dalam tren ini. - Beban Operasional dan Utang Tinggi
Del Monte tidak mampu menyesuaikan struktur biaya dengan cepat. Beban utang membengkak seiring akuisisi besar di masa lalu, sementara arus kas perusahaan terus melemah. - Ketergantungan pada Model Bisnis Lama
Meski sudah lama eksis, perusahaan terlalu lama bertahan dengan model produksi dan distribusi yang konservatif. Ketika kompetitor beralih ke digital dan e-commerce, Del Monte masih terpaku pada sistem lama. - Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat
Generasi muda cenderung lebih memilih makanan instan sehat dan tidak lagi mengandalkan produk kaleng sebagai pilihan utama. Ini mempersempit pasar Del Monte.
Del Monte Bangkrut Indonesia Apakah Akan Berdampak Langsung
Banyak masyarakat bertanya-tanya, Del Monte bangkrut Indonesia juga atau tidak? Jawaban singkatnya: tidak serta merta. Pasalnya, Del Monte Indonesia tidak sepenuhnya berada di bawah kendali perusahaan induk di Amerika. Beberapa unit operasional Del Monte di luar AS dikelola secara mandiri atau melalui kemitraan lokal.
Radar Kudus mencatat bahwa Del Monte memiliki operasi di Asia dan beberapa negara Afrika yang masih berjalan dengan stabil. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi perusahaan induk tetap akan memengaruhi distribusi produk global, termasuk pasokan bahan baku, strategi pemasaran, hingga jangkauan logistik.
Konsumen di Indonesia kemungkinan masih akan menjumpai produk Del Monte di pasaran, namun dalam jangka panjang, ada potensi perubahan harga, ketersediaan produk, bahkan rebranding jika perusahaan lokal ingin lepas dari bayang-bayang perusahaan yang bangkrut.
Kenapa Del Monte Bangkrut Meski Produknya Masih Populer
Muncul pertanyaan menarik di kalangan netizen: Kenapa Del Monte bangkrut padahal produknya masih populer? Jawabannya ternyata cukup kompleks dan menyentuh isu di luar hanya soal branding atau popularitas.
Detik Finance menjelaskan bahwa popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan profitabilitas. Banyak perusahaan yang masih dikenal masyarakat namun sudah mengalami kerugian selama bertahun-tahun. Faktor biaya operasional, strategi ekspansi yang salah, dan ketidakmampuan menghadapi dinamika pasar menjadi penyebab utama keruntuhan Del Monte.
Del Monte juga menghadapi kesulitan untuk beradaptasi di era digital. Ketika pesaingnya seperti Heinz atau Campbell sudah memasuki dunia e-commerce dengan agresif, Del Monte justru lambat bereaksi. Ini membuat pangsa pasarnya tergerus oleh pemain baru yang lebih cepat dan dinamis.
Deretan Produk Del Monte yang Melekat di Pasar Indonesia
Meski perusahaan induk Del Monte ajukan bangkrut, tidak bisa disangkal bahwa produk-produknya sangat melekat di masyarakat Indonesia. Kita mengenal berbagai produk seperti:
- Saus tomat dan sambal Del Monte yang menjadi favorit keluarga.
- Nanas kaleng untuk pelengkap roti dan salad buah.
- Jagung manis kaleng, sering digunakan untuk sop atau campuran menu bakso.
- Pasta saus spaghetti Del Monte, yang populer di kalangan ibu rumah tangga.
Produk-produk ini menjadi bukti bagaimana Del Monte berhasil masuk ke dalam keseharian masyarakat Indonesia, dan inilah kenapa banyak yang terkejut ketika mengetahui kabar Del Monte bangkrut.
Namun ke depan, produk ini bisa saja mengalami penyesuaian distribusi, rebranding, atau bahkan diakuisisi oleh pemain lokal jika lisensinya dilepas oleh perusahaan induk.
Apakah Del Monte PT Apa dan Bagaimana Struktur Hukumnya di Indonesia
Banyak yang penasaran juga: Del Monte PT apa? Di Indonesia, Del Monte biasanya beroperasi melalui entitas lokal bernama PT Del Monte Foods Indonesia. Perusahaan ini memegang lisensi distribusi dan produksi untuk produk-produk Del Monte yang dijual di pasar domestik.
Struktur seperti ini memungkinkan perusahaan tetap berjalan meski perusahaan induk mengalami masalah finansial. Namun tetap saja, lisensi dan izin distribusi bisa terpengaruh jika ada perubahan kepemilikan global.
PT Del Monte Foods Indonesia disebut-sebut memiliki jaringan distribusi yang solid, termasuk pasokan ke retail besar seperti Indomaret, Alfamart, Hypermart, dan e-commerce. Ini bisa menjadi aset berharga bagi investor lokal yang ingin menyelamatkan atau mengambil alih lisensi produk.
Peluang dan Tantangan Del Monte Setelah Ajukan Bangkrut
Kebangkrutan bukan berarti akhir dari segalanya. Banyak perusahaan besar yang pernah bangkrut dan kembali bangkit. Untuk Del Monte, ada peluang untuk melakukan restrukturisasi, merger, atau bahkan menjual unit-unit usaha ke pihak yang lebih sehat secara finansial.
Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan kepercayaan pasar, melunasi utang dengan skema yang realistis, dan menemukan investor yang punya visi baru. Jika hal ini berhasil dilakukan, bukan tidak mungkin Del Monte bangkrut justru menjadi titik balik kebangkitan mereka di era baru.
Namun jika langkah restrukturisasi gagal, maka perusahaan bisa mengalami likuidasi penuh dan seluruh asetnya dijual, termasuk hak atas merek, formula produk, dan jaringan distribusi. Ini akan berdampak langsung pada distribusi global, termasuk ke Indonesia.
Kasus Del Monte bangkrut menjadi pelajaran penting tentang betapa cepatnya dunia bisnis bisa berubah, bahkan untuk brand besar yang sudah punya sejarah panjang. Popularitas dan loyalitas konsumen saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kemampuan beradaptasi, inovasi, dan pengelolaan keuangan yang sehat.
Meskipun tidak secara langsung berdampak pada operasional di Indonesia, namun tetap penting bagi konsumen dan pelaku bisnis lokal untuk memantau perkembangan selanjutnya. Bisa jadi dalam waktu dekat akan ada perubahan pada distribusi, harga, bahkan kehadiran produk Del Monte di rak-rak toko.
Semoga langkah restrukturisasi ini bisa membuahkan hasil dan menyelamatkan warisan merek yang telah puluhan tahun menghiasi dunia kuliner kita.
FAQ
Apakah Del Monte bangkrut secara total?
Del Monte Foods mengajukan bangkrut di AS (Chapter 11), tapi operasional di beberapa negara lain seperti Indonesia masih berjalan.
Kenapa Del Monte bangkrut?
Karena beban utang tinggi, penurunan penjualan, dan kegagalan beradaptasi dengan perubahan pasar.
Apa produk Del Monte yang dijual di Indonesia?
Saus tomat, jagung kaleng, nanas kaleng, sambal botol, dan saus spaghetti.
Del Monte Indonesia juga bangkrut?
Belum. Operasional Del Monte di Indonesia berada di bawah entitas lokal dan belum terpengaruh langsung.
Apakah produk Del Monte akan hilang dari pasar?
Kemungkinan tidak langsung. Namun jika proses bangkrut memengaruhi lisensi global, bisa saja terjadi perubahan distribusi atau rebranding.














